Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,
Mazmur 103:3
Rahmat, anugerah, pengampunan, pertobatan, kasih sayang, memang seolah-olah bukan bahasa orang kantor. Itu bahasa para begawan yang tiap hari menggumuli kitab suci. Di kantor orang diharapkan berbicara tentang reward and punishment, perampingan dan restrukturisasi, sukses atau mundur, hak dan tanggung jawab. Ya, semuanya bahasa macho, sangat maskulin, sangat patriarkhal. Dunia kerja yang didominasi laki-laki, memang terasa keras, tegas, dingin, disiplin dan menakutkan.
Akan tetapi, hidup termasuk kerja tidak mungkin berwatak maskulin saja. Maskulin memang baik, tetapi terlalu maskulin, alangkah gersangnya, dan ujung-ujungnya membawa kematian. Maka ketika dewasa ini bau sangit kematian ada di mana-mana, patutlah kita curiga, jangan-jangan dosis maskulinitas di republik ini sudah kelewatan. Dan saya memang meyakini hal itu. Dunia politik kita, dari Ken Arok sampai Panembahan Senopati, dari Prabu Kartanegara sampai Presiden Soeharto, memang selalu keras, bahkan terlalu keras. Dengan mudah kita lihat pula bahwa dominasi kejantanan yang keras itu amat nyata di dunia bisnis, hukum, pendidikan, bahkan dalam agama....
Akibat dosis kebapakan yang berkelebihan itu, terjadilah ketidakseimbangan. Jika Anda masih ingat film The Sound of Music, disiplin militer yang diterapkan sang bapak yang telah menduda itu, justru mematikan jiwa ketujuh anak-anaknya di tengah niat baiknya mencintai mereka. Tetapi life back to normal ketika si cantik hangat, suster Maria, representasi femininitas universal, memasuki kehidupan rumah sang kapten. Maka kembalilah tawa, ceria, canda, sukacita, kehangatan, musik, pengampunan, rahmat dan cinta ke dalam kehidupan. Indah dan mengharukan. Tidak herankan mendiang Jenderal Alamsyah Ratuperwiranegara sampai menonton film itu belasan kali.
Catatan di atas saya kutip dari Yansen H Sinamo.... Sangat menarik tentunya sehingga saya ingin bagikan pada anda. Itulah yang mungkin anda temukan juga dalam pekerjaan saudara, kasih dan pengampunan hanyalah kosa kata yang kita lihat dengar di rumah ibadah namun jarang sekali praktek dan perkataan itu muncul dalam suasa pekerjaan kita. Bukankah indah jika itu menjadi bagian dalam seluruh kegiatan kira setiap hari, baik di perjalanan, di tempat bekerja ataupun di rumah kita. Jangan sampai yang terjadi sebaliknya cara-cara disiplin militer, serta reward dan punishment malah dibawa ke dalam rumah tangga, sehingga suasana rumah menjadi, dingin, sunyi, tanpa keakraban dan keceriaan.
Buatlah setiap anggota keluargamu merasakan kasih dan sukacita yang keluar dari hati yang tulus. Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. Amsal 15:13 Bahkan sukacita, kasih, dan pengampunan adalah awal dari kesembuhan tubuh saudara. Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,
Mazmur 103:3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Isilah sebagai perkenalan!