Orang yang bimbang hati kubenci, tetapi Taurat-Mu kucintai.
Mazmur 119:113
Saya mengisi kertas ujian akhir semester, di mana beberapa pertanyaan saja yang ditanyakan dan semua pertanyaan jenis essay. Rasanya tidak terlalu sulit bagi saya untuk mengisi ujian seperti itu. Untuk memberi penjelasan atas sesuatu istilah atau rumusan tertentu. Namun yang mengagetkan, pertanyaan terakhir dari ujian itu berisi: “Nilai apa yang anda inginkan?” spontan saya tersenyum sendiri, dan segera saja saya mengisinya dengan “A titik”, yaitu nilai tertinggi bagi para mahasiswa.
Tentu saya tidak main-main, karena saya meyakini jawaban-jawaban saya benar dan kelas-kelas yang saya ikuti serta ujian harian mendapat nilai bagus demikian juga tugas tugas membuat paper dan kehadiran saya di kelas. Jadi saya tidak ragu lagi untuk meminta nilai A kepada Dosen saya. Ketika keluar kelas sebagian teman kami geleng-geleng kepala dan merasa aneh atas pertanyaan terakhir itu, dan di antara mereka ada juga yang mengisi B, B+ dsb.
Saudara!, kisah di atas dapat menjadi gambaran hubungan kita dengan Allah dalam hal keselamatan. Kitab Suci menunjukan bahwa keselamatan itu adalah anugrah Allah saja atau pemberian Allah sepenuhnya, dan diberikan dengan cuma-cuma tanpa diminta bayaran apapun termasuk amal dan kebaikan, kebajikan kita. Namun banyak orang sering jatuh pada keraguan apakah ia sudah mendapatkannya.
Ketika Saudara percaya kepada Yesus Kristus yang mati di salibkan itu adalah cara satu-satunya untuk menebus kita, maka saat itu juga seharusnya saudara telah mendapat keselamatan. Namun perjalanan kita yang masih panjang dan penuh ujian dan tantangan dan bahkan kita sering jatuh lagi ke dalam dosa, maka di sanalah kita sering menjadi ragu apakah benar-benar saya layak mendapat anugrah keselamatan itu? Jawabannya tetap “Ya”, namun sering kata hati kita terdorong oleh keduniawian yang membuat kita merasa tidak layak mendapatkannya. Ya memang keselamatan dan pengampunan itu akhirnya bukan karena hasil dari perjuangan kita, namun seberapa mampukah kita membuang keraguan itu. Keraguan atau sikap ragu-ragu tidak mendapat tempat di surga dan bahkan itu adalah lawan kata dari percaya dan iman.
Jadi apakah yang harus kita lakukan agar dapat mengusir keraguan dan kebimbangan kita? Lakukanlah dengan sungguh-sungguh tugas-tugas kita dan berjalanlah dalam rel yang benar, jauhkan dosa dan bahkan bencilah dosa itu. Dan itu bukan supaya kita menambah jasa keselamatan, namun agar keraguan itu sirna dan bisikan gelap itu - yang berisi meragukan kesanggupan pengampunan dari Allah – ditolak.
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. I Yohanes 1:9
Orang-orang yang telah menerima Anugrah keselamatan dari Allah, dan kemudian jatuh lagi ke dalam dosa, tidak pernah ditolak oleh Allah, namun perlu diperhatikan kebiasaan berdosa membuat hati nurani kita menjadi tumpul, namun Allah tetap menantikan saudara. Dan bahkan anugrah Allah semakin berlimpah bagi mereka .......dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, Roma 5:20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Isilah sebagai perkenalan!