Selasa, 17 Februari 2009

NIlai A Titik

Orang yang bimbang hati kubenci, tetapi Taurat-Mu kucintai.
Mazmur 119:113

Saya mengisi kertas ujian akhir semester, di mana beberapa pertanyaan saja yang ditanyakan dan semua pertanyaan jenis essay. Rasanya tidak terlalu sulit bagi saya untuk mengisi ujian seperti itu. Untuk memberi penjelasan atas sesuatu istilah atau rumusan tertentu. Namun yang mengagetkan, pertanyaan terakhir dari ujian itu berisi: “Nilai apa yang anda inginkan?” spontan saya tersenyum sendiri, dan segera saja saya mengisinya dengan “A titik”, yaitu nilai tertinggi bagi para mahasiswa.

Tentu saya tidak main-main, karena saya meyakini jawaban-jawaban saya benar dan kelas-kelas yang saya ikuti serta ujian harian mendapat nilai bagus demikian juga tugas tugas membuat paper dan kehadiran saya di kelas. Jadi saya tidak ragu lagi untuk meminta nilai A kepada Dosen saya. Ketika keluar kelas sebagian teman kami geleng-geleng kepala dan merasa aneh atas pertanyaan terakhir itu, dan di antara mereka ada juga yang mengisi B, B+ dsb.

Saudara!, kisah di atas dapat menjadi gambaran hubungan kita dengan Allah dalam hal keselamatan. Kitab Suci menunjukan bahwa keselamatan itu adalah anugrah Allah saja atau pemberian Allah sepenuhnya, dan diberikan dengan cuma-cuma tanpa diminta bayaran apapun termasuk amal dan kebaikan, kebajikan kita. Namun banyak orang sering jatuh pada keraguan apakah ia sudah mendapatkannya.

Diuji Agar Semakin Kuat

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.”
Yakobus 1:2

Sementara saya memindah-mindahkan chanel TV, ...saya menghentikan pencarian sebentar dan mulai tertuju pada tayangan hewan-hewan liar di hutan. Saya tidak memindahkannya lagi karena ada yang sangat menarik di mana seekor singa muda dibiarkan induknya berada di antara babi hutan yang ukurannya lebih besar dari singa muda. Sang induknya ternyata tidak sekedar membiarkan, tapi ia terus memperhatikan singa muda mengejar dan di kejar. Namun ketika singa muda dalam kesulitan sang induk segera maju dan babi hutan segera mundur, namun tidak diusirnya, dibiarkannya lagi singa muda mendatangi babi hutan, mulai lagi kejar mengejar, dan bila kembali singa muda dalam kesulitan maka sang induk segera menerjang. Wah... pemandangan unik kelihatannya!

Saudara apakah hubungan kita manusia ada kemiripan? Antara anak dan orang tua dalam mengasuh anak-anak hingga mandiri ada semacam tarik ulur dalam dukungan (support) sampai pada akhirnya anak-anak dapat mandiri dalam segala hal?? ...

Akibat Tergesa-gesa

Tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah. Amsal 19:2

Hidup di zaman modern terdorong untuk melakukan berbagai kegiatan dengan cepat dan bahkan serba terburu-buru, karena begitu berartinya waktu. Termasuk dalam soal makan. Dengan jadwal kerja yang begitu padat, perjalanan yang jauh ke tempat kerja, dan jam masuk kerja di pagi hari yang harus on time, maka sering kali para pekerja, siswa, dan mahasiswa pun tidak lagi menikmati makanan dengan santai, bahkan terkesan asal masuk saja.

Makan yang terburu-buru, dengan mengunyah sekedarnya saja, membuat makanan yang masuk ke dalam lambung masih berukuran besar, sehingga tentunya pekerjaan yang seharusnya masih dikerjakan mulut ditransfer ke lambung, sehingga lambung terlalu berat bekerja, dan bahkan cenderung proses selanjutnya juga terganggu. Lambung pada akhirnya menjadi tumpukan makanan yang hanya sedikit sekali yang dapat diserap tubuh, sehingga sel-sel yang harusnya mendapat asupan makanan menjadi lemah dan mati....

Kasih Dan Pegampunan Yang Menyembuhkan

Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,
Mazmur 103:3

Rahmat, anugerah, pengampunan, pertobatan, kasih sayang, memang seolah-olah bukan bahasa orang kantor. Itu bahasa para begawan yang tiap hari menggumuli kitab suci. Di kantor orang diharapkan berbicara tentang reward and punishment, perampingan dan restrukturisasi, sukses atau mundur, hak dan tanggung jawab. Ya, semuanya bahasa macho, sangat maskulin, sangat patriarkhal. Dunia kerja yang didominasi laki-laki, memang terasa keras, tegas, dingin, disiplin dan menakutkan.
Akan tetapi, hidup termasuk kerja tidak mungkin berwatak maskulin saja. Maskulin memang baik, tetapi terlalu maskulin, alangkah gersangnya, dan ujung-ujungnya membawa kematian. Maka ketika dewasa ini bau sangit kematian ada di mana-mana, patutlah kita curiga, jangan-jangan dosis maskulinitas di republik ini sudah kelewatan. Dan saya memang meyakini hal itu. Dunia politik kita, dari Ken Arok sampai Panembahan Senopati, dari Prabu Kartanegara sampai Presiden Soeharto, memang selalu keras, bahkan terlalu keras. Dengan mudah kita lihat pula bahwa dominasi kejantanan yang keras itu amat nyata di dunia bisnis, hukum, pendidikan, bahkan dalam agama....

Selasa, 27 Januari 2009

Terjun dan nikmati masalah


Kita tak pernah tahu masalah dan tantangan yang dihadapi perenang jika tidak pernah terjun ke air. Kita juga tidak pernah dapat menikmati hangat atau dinginnya air jika badan kita belum tercelup di air. Bagaimana kita dapat menikmati tubuh kita melayang di air, jika kita tidak siap menghadapi tantangan dinginnya air dan sulitnya bernafas di air kolam renang. Anda akan memahami bagaimana mencari jalan keluar untuk sesuatu masalah atau proyek yang belum pernah anda jalani, sekalipun perjalanan kita tidak semulus yang kita harapkan. Seorang pembimbing mungkin bisa mengarahkan harus jalan lurus atau belok kiri dan kanan, namun jika anda yang dibimbing tidak berada di rimba sana anda tak pernah tahu kanan yang mana dan kiri yang seperti apa, karna banyak jalan kiri dan kanan. Jadi masukilah proyek anda dan terjunlah ke kolam masalah anda dan pasti usaha anda tidak akan sia-sia dan suatu saat anda akan menikmati bagaimana dapat melayang di atas masalah dan tantangan.