Apa yang menggentarkan orang fasik, itulah yang akan menimpa dia,
tetapi keinginan orang benar akan diluluskan.
Amsal 10:24
Pagi itu saya mengunjungi seorang pasien di lantai 4 Rumah Sakit Advent Bandung, dan bertemu dengan seorang bapa yang sudah cukup usia. “Selamat pagi pak!” pak tua segera menyahut dengan wajah ceria, dengan sambutan yang hangat. “Bagaimana pagi ini, ada kemajuan?” “Alhamdulilah pak saya sudah lebih baik.” Ya syukurlah kalau begitu, sahut saya. Saya terus berkenalan dengan paka tua, dan beliau rupanya seorang mantan kepala sekolah SMU di kota Bandung. Saya sudah lupa namanya, tapi kisahnya tak pernah lupa ketika ia menceritakan perjalanan hidupnya. Sebut saja Pak Dana, ia seorang yang warga yang sangat peduli pada kesusahan dan penderitaan orang lain, oleh karena itu ia belajar beberapa dasar ilmu kesehatan dan pengobatan di mana ia dimampukan untuk memberikan pelayanan pengobatan secara sederhana dari PMI .
Ketika kami bertemu, Pak Dana rupanya baru pulang dari Aceh, ..bertepatan waktu itu baru terjadi tragedi tsunami di Aceh, jadi spontan saya bertanya padanya, apa bapak mengunjungi keluarga yang kena musibah? “Oh tidak!” “saya cuma ingin membantu mereka sebagai relawan.” Begitu jawabnya. Saya terheran-heran karena Pak Dana sudah cukup tua untuk menjadi relawan. Saya jadi lebih tertarik lagi mendengar ceritanya. Ia mengisahkan ketika pemerintah kota Bandung menyaring para relawan, Pak Dana sempat mendaftarkan dirinya, namun ditolak karena usianya yang tidak memungkinkan. Ia sempat kecewa karena sesungguhnya ia masih mampu untuk melakukan pekerjaan tersebut.